AYO OLAHRAGA! DIMANA SAJA, KAPAN SAJA, BERSAMA SIAPA SAJA. LAYANAN ADUAN DEPUTI 3 (http://deputi3.kemenpora.go.id/statik/dialog) SEKRETARIAT DEPUTI PEMBUDAYAAN OLAHRAGA (GEDUNG PPITKON LANTAI 2)

1st ASEAN plus JAPAN Meeting on Women and Sports

  • Rabu, 09 Oktober 2019

(Manila, 8 Oktober 2019). Setelah seharian penuh pada tanggal 7 Oktober 2019 menyelesaikan pertemuan dalam 5th ASEAN Senior Official Meeting on Sports (ASM-5) di Manila, seluruh delegasi yang dipimpin oleh Filipina pada 8 Oktober 2019 mengadakan pertemuan hari kedua, yang khusus membahas  agenda “1st ASEAN Plus Japan Meeting on Woman and Sports.”

Beberapa hal penting yang mengemuka adalah sebagai berikut:

1.      Sebagai pengantar pertemuan, dalam pertemuan tersebut, delegasi Jepang dipimpin langsung oleh Mr. Kumekawa Hirokazu (Director of International Affairs Division of Japan Sports Agency). Jepang menyampaikan informasi tentang sejumlah program yang bisa dikerjasamakan dengan negara-negara ASEAN tentang peranan wanita dalam olahraga. Program ini diantaranya telah ditindaklanjuti  melalui  The ASEAN Plus Japan Special Meeting on Wowan and Sports pada tanggal 23 Oktober 2018 di Nay Pyi Taw, Myanmar, dimana Myanmar  telah menyampaikan laporan tentang pelaksanaan seminar dengan topik wanita dan olahraga, yang pada intinya mendorong agar makin banyak peranan wanita dalam olahraga. Indonesia menyampaikan permohonan maaf dalam tanggapannya karena tidak hadir dalam seminar di Myanmar tersebut karena saat itu sedang dalam kesibukan pasca Asian Games dan Asian Para Games 2018. Namun demikian, Indonesia menyampaikan kebanggaannya, bahwa salah satu tokoh olahraga Indonesia dari kalangan wanita adalah Rita Soebowo, yang pernah memimpin KONI, KOI, dan bahkan INASGOC pada tahap awal dan kini masih tercatat sebagai salah satu anggota Executive Council of OCA.

2.      Jepang bekerjasama dengan Filipina telah menyampaikan informasi tentang ASEAN – Japan Action on Sports Project, yang diharapkan dapat diikuti oleh seluruh negara ASEAN khususnya yang akan diikuti oleh 10 atlet unggulan wanita dam kelompok profesional ASEAN selama berlangsungnya SEA Games 2019 di Filipina, yang didukung oleh Jepang. Proyek ini diharapkan dapat mengetahui sampai seberapa jauh peranan wanita dalam kegiatan olahraga, dalam artian tingkat pemahaman publik di masing-masing negara dan juga keterlibatan yang perlu di-endorse untuk masa mendatang.

3.      Selain paparan dari Jepang, yang tidak kalah menariknya adalah paparan dari perwakilan UN Commision on Woman, UNESCO, dan FIFA. Dalam paparannya, UN Commision on Woman menjelaskan, bahwa memang fakta menunjukkan bahwa masih banyak ditemui ketidak seimbangan masalah gender di olahraga, sebagai contoh untuk tim yang berlaga di Piala Dunia 2018 bonusnya hingga mencapai US $400 juta, sedangkan untuk tim sepakbola wanita juga di Piala Dunia 2019 hanya US$ 30 juta. UN Commision ini tidak semata-mata fokus pada masalah perbedaan pendapatan yang diterima antara atlet pria dan wanita, tetapi lebih pada yang paling fundamental adalah tentang upaya untuk mengatasi kekerasan dan rintangan bagi wanita untuk dapat lebih berkecimpung di olahraga. Bahkan UN Commission juga memaparkan contoh-contoh peranan atlet wanita yang menonjol sebagai top management seperti Sania Mirza (mantan juara ganda putri Wimbledon) yang kini menjadi UN Women Goodwill Ambassador di Asia Selatan. Demikian pula FIFA yang menunjukkan makin banyaknya peranan wanita di lembaga FIFA baik pusat maupun sejumlah anggota FIFA (federasi dsepakbola tiap negara), seperti misalnya Sekjen FIFA   Fatma Samba Diouf Samoura dari Senegal, yang meskipun bukan mantan atlet wanita, namun karir managemennya di lembaga-lembaga pemberi bantuan pangan PBB sangat diapresiasi. Akan halnya UNESCO, lembaga ini lebih banyak memaparkan program UNESCO melalui Sport Task Force, yang lebih menitikberatkan pada program kepedulian pada pengembangan pemuda dan wanita di berbagai kawasan melalui olahraga. Program tersebut cukup sukses, karena tidak hanya bertumpu pada peningkatan peran pemuda dan wanita pada program eksklusif, tetapi lebih pada kegiatan-kegiatan yang paling umum dan bersifat komunal di daerah masing-masing.

4.      Jepang memaparkan tentang tindak lanjut ASEAN Work Plan on Sports 2016 – 2020 melalui program kerjasama ASEAN dan Jepang dalam bidang olahraga. Hal ini penting karena searah dengan pelaksanaan Post-2020 Direction of ASEAN – Japan Development yang dapat disinergiskan dengan pengembangan ASEAN Work Plan on Sports 2021 – 2025 dengan prioritas di bidang olahraga yang terkait dengan pengembangan sosial, sport integrity, sports for all, sport science dan sport tourism.

5.      Jepang juga menjelaskan tentang hasil asesmen kebutuhan yang terkait tentang ASEAN – Japan Collaborative Work Program dan juga dalam upaya untuk mengatasi masalah pengembangan pendidikan fisik dan untuk guru dan pelatih, wanita dalam olahraga dan sport science. Selain itu, sebagai bentuk kontiniuitas kerjasama yang berkelanjutan antara ASEAN dan Jepang di bidang olahraga, maka Jepang juga mendorong bagi suksesnya promosi tentang partisipasi wanita dan remaja putri dalam bidang olahraga di negara-negara ASEAN melalui joint initiative ASEAN – Japan Actions on Sports in 2019 – 2020 dan mendorong bagi suksesnya inisiatif baru Jepang untuk memajukan pendidikan fisik olahraga para guru di kawasan ASEAN.

6.      Di samping itu, Jepang juga diapresiasi atas persiapannya menghadapi Olimpiade dan Paralimpik 2020  di Tokyo dan tentu saja ASEAN mengharapkan bagi suksesnya penyelenggaraan event tersebut dan dampak positifnya bagi hubungan ASEAN dan Jepang.