Sukseskan Asian Games 2018 dan Asian Paragames 2018

Festival Olahraga Tradisional Gali Aset Budaya Nusantara

  • Asian Games,Asian Para Games,Gala Desa,Olahraga
  • Minggu, 08 Juli 2018

Jambi, Minggu (8/7/2018) - Di Festival Olahraga Tradisional, menang atau kalah bukan utama yang dicari. Terpenting masyarakat menikmati dan aset budaya tergali. Itulah esensi dari Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional yang berlangsung di Jambi, 7-9 Juli 2018.

Terbukti siang terik matahari tak mengahalangi. Malam yang mulai larut pun mereka tetap beraksi. Beragam permainan olahraga tradisional menarik tersaji.

Animo masyarakat Jambi yang ingin tahu juga sangat tinggi. Seperti halnya pada  Sabtu (7/7/2018) malam, maupun keesokkan paginya hingga sore hari keesokannya, mereka tetap memenuhi Lapangan Kantor Gubernur Jambi, tempat dilangsungkannya event yang dipayungi oleh Kemenpora pimpinan Imam Nahrawi.

"Permainannya menarik dan unik. Main bola kecil tapi memasukkan bola ke keranjang pakai alat seperti centong," kata Yusa Pratama, siswa kelas 2 MTS Jambi mengomentari permainan Pa'sodo Tompong Tompong dari Sulawesi Selatan.

Pa’sodo Tompong Tompong adalah olahraga tradisional di pesisir pantai Maros. Olahraga ini menyerupai permainan bola basket. Untuk membawa bola digunakan Pa’sodo (sejenis jala untuk menangkap ikan) dan memasukkan bola takraw ke dalam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.

Lain lagi dengan Yogi teman sekolahnya. Dia lebih suka penampilan dari Papua dengan permainan olahraga Cado. Kostum yang memainkan alat musik tradisionalnya unik. "Kostumnya keren, permainan juga menarik seperti olahraga hoki. Unik karena bola yang dipukul pakai bambu," kata Yogi.

Permainan ini dimainkan oleh laki-laki. Alat permainannya berupa tongkat stik yang terbuat dari bambu. Tiap pemain yang dibagi dua tim, masing-masing 5 orang, berebut bola yang terbuat dari akar bambu untuk dimasukkan ke lobang.

Kabupaten Bungo Provinsi Jambi juga tak mau kalah dengan permainan Antu Raung. Permainan yang dimainkan 9 orang atau harus ganjil ini mirip hadang. Butuh ketahanan fisik sekitar 75 persen. Masing-masing tim terdiri dari 4 orang dan satu orang sebagai penjaga Antu Raung (orang orangan sawah) yang berada di tengah.

"Sesuai instruksi Menpora Imam Nahrawi agar tiap daerah menggali olahraga permainan tradisional, kami melakukan penelitian selama 6 bulan di Kecamatan Limbur Mengkuang, Kabupaten Bungo. Kami meneliti cara permainan, teknik dan sejarahnya," ungkap Vinto Effendi, pelatih Antu Raung.

Menurutnya timnya pernah tampil di Event Permainan Anak Melayu di Negeri Sembilan, Malaysia. Hasilnya, permainan Antu Raung keluar sebagai The Best Education.

"Saya berharap permainan ini dapat dibakukan, jangan sampai aset olahraga tradisional ini diakui oleh Malaysia," saran Vinto yang menyatakan Antu Raung telah masuk sebagai pelajaran ekstrakurikuler sekolah-sekolah di Kabupaten Bungo.

Permainan Obah Owah dari Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta juga mendapat aplaus dari penonton. Permainan yang biasanya dimainkan pada bulan purnama ini sekaligus menutup event gawean Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora itu.

Permainan ini mengunakan piranti yang ada saat panen padi. Ada orang-orangan sawah (memedi sawah), jerami, untaian padi, hingga alu, dan tenggok tempat padi. Permainan dibagi menjadi dua tim dan dimainkan empat orang.

Tahap awal, peserta akan berlomba mengambil alu dan sarung dengan berjalan secara duduk menggunakan tangan. Setelah berhasil mendapatkan alu, tiga pemain berjalan bersama dilingkari sarung.

"Persiapan kami tiga bulan, selain unik, olahraga tradisional ini menuntut kedisiplinan dan gerakan tangkas,” kata Ketua Kontingen dan Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo Joko Mursito.

Menurut Dewan Juri Suherman semua yang ditampilkan bagus-bagus, banyak yang unik dan menarik. Ketua Umum KOTI Pusat itu mengatakan Indonesia sangat kaya olahraga tradisional. Inisiatif Menpora menggalakkan penggalian budaya olahraga di seluruh pelosok ini tentu sangat positif. Setidaknya tiap daerah wajib menjaga aset kekayaannya.

"Sistem penilaiannya yang terpenting adalah 40 persen nilai olahraganya yakni ada unsur gerak, teknis, 20 nilai budaya, sisanya kostum dan lainnya," ujar Suherman.

Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional 2018 yang berlangsung di Tanah Pilih Pesako Betuah ini diikuti 18 Provinsi dan 2 Kapubaten Jambi. Sebanyak 250 peserta menampilkan 19 permainan olahraga tradisional. Menurut Suherman nanti akan diambil 10 terbaik.*