AYO OLAHRAGA! DIMANA SAJA, KAPAN SAJA, BERSAMA SIAPA SAJA. LAYANAN ADUAN DEPUTI 3 (http://deputi3.kemenpora.go.id/statik/dialog) SEKRETARIAT DEPUTI PEMBUDAYAAN OLAHRAGA (GEDUNG PPITKON LANTAI 2) Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan 1441 H/2020 M. Ikuti Lomba Senam SAH (Stay At Home) Kemenpora Cek IG Deputi3Kemenpora

Revisi Undang-Undang SKN Bukan Ajang Saingan Kepentingan antara Pembudayaan dan Prestasi Olahraga

  • Kamis, 20 Februari 2020

Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga mengundang stakeholdernya untuk berkumpul membicarakan usulan perubahan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional pada 18-20 Februari 2020 di Tangerang, Banten. Diantara stakeholder yang hadir adalah ahli hukum, perwakilan FORMI (yang sekarang disebut KORMI), akademisi, para pejabat eselon 2 di Deputi 3 serta staf khusus dan staf ahli di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

 

Rencana revisi undang-undang tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh stakeholder pembudayaan olahraga. Bagaimana tidak, ibarat mendapat air di tengah gurun yang panas, ternyata sudah banyak sekali masukan yang ingin disampaikan untuk diubah atau ditambahkan. Mulai dari pengertian pembudayaan olahraga itu sendiri, pengubahan frasa "olahraga rekreasi" menjadi "olahraga masyarakat", hingga pengusulan penggantian istilah "penyandang cacat" menjadi "penyandang disabilitas". Belum lagi masukan lainnya yang menjelaskan pentingnya unutk melakukan pembudayaan olahraga di masyarakat sebelum menuntut adanya prestasi olahraga di Indonesia.

 

"Pengusulan revisi undang-undang ini bukan untuk saling bersaing antara pembudayaan dan prestasi olahraga, namun untuk saling mendukung", ucap Raden Isnanta, Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga, dalam arahannya.

 

Ibarat Piramida, Pembudayaan Olahraga itu menempati posisi di bagian bawah/dasar, sementara Prestasi Olahraga ada di bagian puncak piramida. Artinya adalah partisipasi masyarakat dalam berolahraga adalah pendukung utama atau landasan untuk menciptakan prestasi olahraga. "Tiada prestasi tanpa partisipasi", istilah inilah yang dapat mengungkapkan keadaan tersebut.

 

Bisakah kita membayangkan jika masyarakat ini malas bergerak atau malas melakukan aktivitas fisik? Apa yang akan terjadi? Tentunya akan menambah angka kematian akibat penyakit tidak menular sebagai akibat dari obesitas serta juga menurunkan produktivitas. Anak-anak Indonesia akan sibuk dengan gawainya jika tak dikenalkan permainan atau olahraga tradisional. Belum lagi permasalahan sosial lainnya seperti narkoba dan pergaulan bebas di kalangan anak muda.

 

"Belajar toleransi yang paling baik itu adalah di lapangan, yaitu saat kita berolahraga", ucap Iskandar Zulkarnain yang menjadi narasumber pada rapat tersebut. Pernyataan tersebut adalah hasil pengamatan yang dilakukakannya selama ini. Ketika berolahraga, kita berganti fokus untuk menggerakkan tubuh dan membentuk poin. Tidak ada yang menanyakan "apa agama kita?" dan "apa suku/ras kita?" saat berolahraga. Begitu besarnya dampak yang akan diberikan jika kita terbiasa berolahraga. Olahraga juga baik untuk mengembangkan rasa optimis dan menjaga pikiran positif selain membuat tubuh sehat serta bugar.

 

Diakhir kegiatan, tersusunlah draft usulan perubahan UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang berisi 43 macam usulan perubahan dari stakeholder Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga. "Usulan tersebut nanti akan diserahkan kepada Biro Humas dan Hukum Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk ditindaklanjuti sebagaimana mestinya", ucap Sekretaris Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Suryati. (Uci)