Olahraga untuk Kesehatan Mental Perempuan Indonesia





Yuli (38 thn) berkali kali menarik nafas panjang. Sesekali beristighfar, sementara anaknya yang berseragam merah putih masih cemberut di depan laptop. Anak 8 tahun itu tak mampu juga menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan ibunya, meskipun sang Ibu telah berkali-kali menjelaskan konsep penjumlahan padanya. Kelelahan, akhirnya sang Ibu memilih menyerah, membiarkan anaknya menonton video you tube, sementara dia sendiri bergegas mengikuti rapat daring kantornya.

Lain halnya dengan Siska (34 thn), ibu rumah tangga di Jakarta Timur itu merasa seperti mengulang kembali sekolah dasarnyanya. Bagaimana tidak, untuk bisa menjelaskan berbagai pelajaran pada dua anaknya (kelas 4 dan 6 SD) ia harus turut membaca buku pelajaran mereka. Dan ternyata mengingat-ngingat ilmu yang dipelajari 24 tahun yang lalu tidaklah mudah. Memang guru sekolah anaknya memberikan video pembelajaran dan kadang mengadakan tatap muka via daring, tetapi tetap saja anak-anak itu akan bertanya pada ibunya saat mengerjakan tugas sekolah. Merasa tak mampu dan kesulitan membagi waktu dengan kewajibannya yang lain Siska kadang menjadi uring uringan.

Dua cerita di atas memberikan sedikit gambaran bagaimana perempuan Indonesia di masa pandemi. Pandemi COVID-19, telah memberikan berbagai dampak bagi kehidupan, tak terkecuali perempuan Indonesia.  Selain kuallitas kesehatan yang menurun, berbagai dampak lainnya begitu dirasakan perempuan Indonesia.

Beberapa temuan dari laporan yang didukung oleh insiatif “Women Count” dari UN Women dan The United Nations (UN) COVID-19 Multi-Partner Trust Fund berkerja sama dengan UNICEF, WFP, dan UNDP pada Oktober 2020 menjelaskan dampak pandemi bagi perempuan Indonesia. Beberapa diantaranya adalah 85%  perempuan Indonesia mengalami penurunan pendapatan, 39% menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengajar anak di rumah dan pembatasan sosial yang meninigkatkan resiko kekerasan di rumah tangga serta 57%  mengalami stres dan gangguan kecemasan.

 

Pemicu stres pada perempuan saat pandemi

Temuan UN Women di atas juga menunjukkan bahwa stress dan gangguan kecemasan lebih banyak terjadi pada perempuan (57%) dibandingkan laki-laki (48%). Menurut beberapa ahli hal tersebut dipicu oleh berbagai hal antara lain:

  • Perempuan merupakan sosok perawat (care giver) dalam keluarga. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, perempuan biasanya bertugas mendampingi dan merawat. Kegiatan tersebut kadang memicu stess lebih cepat, apalagi saat sakit saat pandemi dikhawatirkan mengarah pada Covid-19;
  • Intensitas penggunaan media sosial pada perempuan meningkat selama pandemi sehingga mereka lebih banyak terpapar dengan ragam cerita pandemi. Hal ini kemudian memperkaya ingatan di dalam pikiran tentang pandemi yang memicu kecemasan;
  • Berbagai peran yang melekat bersamaan, terutama pada ibu bekerja yaitu sebagai pencari nafkah, ibu yang mendampingi sekolah online anak-anak,serta peran ibu rumah tangga;
  • Perempuan memiliki kecenderungan untuk lebih ekspresif terhadap perasaan yang dialami.

Mengatasi stress dan kecemasan pada perempuan dengan olahraga

Salah satu cara untuk mengelola stres dengan baik dan mengatasi gangguan kecemasan adalah dengan berolahraga secara rutin. Rutin berolahraga dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks. Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2018 mengungkap hubungan olahraga dengan kondisi kesehatan mental. Mereka yang berolahraga beberapa kali seminggu memiliki kesehatan mental yang lebih baik daripada mereka yang tidak berolahraga.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Psychiatry menyatakan berolahraga selama sekitar 45 menit tiga hingga lima kali seminggu, merupakan porsi terbaik untuk mencapai mental yang sehat dan akan memberikan manfaat terbesar. Namun, lebih dari itu, seseorang akan mengalami kesehatan mental yang memburuk selama 3-4 hari dalam sebulan. Studi tersebut mencakup semua jenis aktivitas fisik, mulai dari pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, memotong rumput, dan memancing hingga bersepeda, pergi ke gym, berlari, dan bermain ski.

Lebih jauh, beberapa penjelasan para ahli mengapa olahraga dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang antara lain

  • Olahraga mengurangi stres dan meningkatkan rasa bahagia

Dengan berolahraga, tubuh akan mudah memproduksi hormon endorfin. Hormon endorfin diproduksi di dalam otak dan mempengaruhi pusat pengaturan perasaan di dalam otak. Hormon ini akan membuat otak mengatur agar perasaan menjadi bahagia dan lega. Hormon ini juga yang mampu mengurangi ransangan rasa sakit hingga menghilangkannya. Kedua efek inilah yang mampu mengurangi stres. Selain itu, berolahraga juga merupakan kegiatan positif yang dapat mengalihkan perhatian diri dari hal-hal pemicu stres. Dengan mengalihkan perhatian, pikiran akan lebih tenang. Perlahan, diri kita akan beradaptasi dengan hal-hal pemicu stress.

  • Olahraga meningkatkan fungsi dan kinerja otak

Olahraga dapat meningkatkan sirkulasi darah yang  membantu organ otak untuk mendapatkan suplai oksigen serta nutrisi. Sirkulasi darah menuju otak yang terjaga baik dapat mempercepat kinerja otak dan memelihara sel-sel saraf di dalam otak. Selain itu, berolahraga rutin juga dapat meningkatkan produktivitas hippocampus yang berkontribusi dalam meningkatkan memori pada otak.

Menyadari begitu besar manfaat olahraga maka perempuan Indonesia, dengan berbagai peran, tanggung jawab dan tekanan yang dialaminya haruslah menyempatkan diri berolahraga. Dalam kondisi pandemi, kaum perempuan tetap dapat melakukan olahraga yang sederhana dan mudah di rumah seperti berjalan sambil meninabobokkan bayi, naik turun tangga, push-up, senam diiringi video, angkat beban menggunakan perabotan rumah dan lain sebagainya.

Dengan rutin berolahraga, maka mental dan fisik menjadi sehat sehingga menjadikan perempuan Indonesia lebih produktif dan terus memberikan kemanfaatan bagi lingkungannya. 

 

Salam Olahraga !!

Penulis: Tutut Bina S, Kabag Humas, Hukum dan Sisinfo pada Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga, Kemenpora.



×