Kita Kurang ini, Kurang itu

Saya tak kuasa nahan air mata menghadiri penutupan Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional (Peparpenas) X di Palembang beberapa waktu lalu. Para atlet pelajar disabilitas nampak riang, gembira dan bahagia. Terlihat sekali wujud syukur mereka dengan cara paling sederhana. Mengutip kata-Kata Gus Baha "Salah satu wujud syukur adalah tertawa, gembira".

Kita Kurang ini, Kurang itu Salah satu atlet Boccia tampak riang saat bertanding

Saya tak kuasa nahan air mata menghadiri penutupan Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional (Peparpenas) X di Palembang beberapa waktu lalu. Para atlet pelajar disabilitas nampak riang, gembira dan bahagia. Terlihat sekali wujud syukur mereka dengan cara paling sederhana. Mengutip kata-Kata Gus Baha "Salah satu wujud syukur adalah tertawa, gembira". 

Salah satu atlet berseragam lengkap bertopi berjalan ke panggung. Badannya relatif pendek dibandingkan pelajar lainnya,  tinggi sekitar 1 meter dan mata yang tak sempurna. Satu lagi yang unik, kedua kakinya menghadap belakang, sehingga  antara moncong topi dan ujung sepatu depannya tampak bertolak belakang.

Ada pemandangan menarik lainnya. Salah satu atlet  harus digendong untuk maju di atas panggung dan tetap digendong selama acara berlangsung. Hal ini disebabkan karena dia hanya punya tubuh, tanpa kaki. Posisi berdirinya adalah bertumpu pada pinggulnya.

Memang, ini adalah ajang kompetisi anak pelajar yang memiliki hambatan (disabilitas). 
Dua atlet di atas hanyalah secuil gambaran peserta atlet Peparpenas, yang tentu saja mewakili hambatan/disabilitas masing masing berdasarkan klasifikasinya, serta sesuai cabang olahraganya. Hal yang mengharukan adalah  hambatannya, tidak menghilangkan kegembirannya.

Ketika mereka bergembira, tertawa riang, bergurau dengan temennya, saya tidak dapat menahan tangis. Tangis bukan rasa kasihan, karena mereka tidak butuh dikasihani. Tangis melihat betapa bersyukurnya mereka atas acara tersebut, atas kesempatan yang ada, atas kebersamaan dan kesetaraan perlakuan dan penghargaan. Untuk atlet berprestasi, Pemerintah memberi perlakuan yang sama, penghargaan dan besaran bonus yang sama. 

Salah satu teman saya bercerita, sore sebelumnya mengajak beberapa atlet ke pantai. Mereka bergembira bermain air dan pasir. Diantara atlet ada penyandang tuna netra.  Mereka tiba-tiba menyeletuk, "Widiih, seksi- seksi yaa ?". Sontak teman di sampingnya,  yang memiliki keterbatasan fisik di bagian kaki "memukul" kepala temannya yang tuna netra. Dengan cepat dia menyahut "Kayak lo lihat aja". Sahutannya disambut gelak tawa semua rombongan. 

Hebat hebat mereka, bahkan ini wujud  ikhlas dan syukur,  dengan cara menertawakan diri sendiri, bukan karena merasa kurang, tapi untuk menghadirkan suasana kegembiraan. Tidak semua orang bisa dan mau mengakui kekurangannya, atau bahkan ikut tertawa sembari menertawakan diri sendiri seperti atlet tuna netra tadi. 

Betapa ketidaksempurnaan yang kita lihat, sesungguhnya mungkin perwujudan "KESEMPURNAAN"  dari Tuhan. Betapa Allah SWT mampu menciptakan yang bagaimanapun sesuai kehendak-Nya. Betapa yang kita anggap tidak sempurna, mereka justru sangat bersyukur. Dan kita sering mengeluh, kurang tinggi, kurang kurus, kurang gemuk, kurang cantik/ganteng, kurang pinter, kurang sukses, kurang kaya, dan kurang kurang yang lain. 

Segera saya kirim foto dan video untuk anak anak saya. Saya tulis pesan, lihatlah mereka, belajarlah dari mereka. Hambatan bukanlah HALANGAN, sebagaimana Tema Peparpenas tahun 2023 ini. 

Para atlet disabilitas ini  jelas punya hambatan, fisik,  mental, atau mungkin hambatan dari orang atau lingkungan  sekelilingnya.
Tapi itu semua bukan halangan, tidak menjadi halangan untuk berlatih keras, bukan halangan utk bekerja keras, bukan halangan untuk bisa berprestasi dan meraih mimpi.

Belajarlah yang sungguh sungguh, jangan main main. Bukan hanya untuk menjadi sangat pintar, sehingga bisa masuk ITB , UI, UGM  IPB  atau kampus unggulan manapun lainnya. Tapi belajarlah sungguh-sungguh sebagai wujud rasa syukur, atas karunia kesempatan, karunia orang tua yang mendukung dan membiayai.

Bekerjalah yang sungguh- sungguh, jangan malas malasan. Bukan untuk menjadi kaya, karena kekayaan (rizki, walaupun rizki tidak selalu kekayaan) sudah ditetapkan Tuhan sebelum kita lahir. Bekerjalah keras sebagai wujud rasa syukur atas segala Rahmat Illahi. 


Palembang, 6 Agustus 2023.
Penulis : Suyadi, Sekretaris Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora
Editor: Tutut Bina S

BAGIKAN :
PELAYANAN