Sport Development Index (SDI) dan Pembangunan Olahraga Indonesia

Sobatpora, coba dihitung berapa kali kita berolahraga dalam satu minggu? Satu kali, dua, tiga? Atau malah kita lewatkan satu minggu tanpa olahraga?

Sport Development Index (SDI) dan Pembangunan Olahraga Indonesia Ilustrasi SDI

Sobatpora, berapa kali kita berolahraga dalam satu minggu? Satu, dua, tiga? Atau malah kita lewatkan satu minggu tanpa olahraga? Dengan kesibukan yang kita miliki, bisa jadi olahraga bahkan tidak masuk dalam agenda mingguan kita. Padahal dengan olahraga kita bisa menjadi lebih produktif dalam melakukan tugas-tugas keseharian kita karena badan lebih bugar dan sehat. Juga berbagai riset menunjukkan, olahraga rutin dapat meningkatkan kesehatan mental karena saat berolahraga kita bisa menghasilkan hormon kebahagiaan dan merasa rileks.

Pemerintah memberikan perhatian besar pada peningkatan sumberdaya manusia dengan meningkatkan kualitas hidup, termasuk kesehatan, kebugaran dan produktivitas melalui olahraga. Bahkan dalam Perpres No. 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional, salah satu visinya pada tahun 2045 adalah “Mewujudkan Indonesia Bugar, dengan 70 persen masyarakat berpartisipasi aktif berolahraga sebanyak 3 kali seminggu dengan durasi minimal 60 menit, sehingga diharapkan 60 persen memiliki tingkat kebugaran jasmani baik. Angka menuju 70 persen partisipasi masyarakat berolahraga di tahun 2045 diupayakan dicapai secara gradual. Dalam Permenpora Nomor 6 Tahun 2022 tentang Peta Jalan DBON, pada tahun 2023 partisipasi ditargetkan mencapai 37 persen dan 2024 sebanyak 40 persen.

Salah satu hal penting dalam perumusan berbagai kebijakan olahraga untuk mencapai visi DBON adalah pengukuran Sport Development Index (SDI). Dengan SDI kita bisa melihat seberapa tinggi tingkat capaian partisipasi masyarakat untuk berolahraga.

SDI adalah indeks gabungan yang mencerminkan keberhasilan pembangunan olahraga berdasarkan 9 dimensi dasar, yaitu sumber daya manusia olahraga, ruang terbuka, literasi fisik, kebugaran, perkembangan personal, kesehatan, ekonomi, performa dan partisipasi.

SDI Tahun 2022 menunjukkan tingkat partisipasi olahraga masyarakat Indonesia sebesar 30,93 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada tahun 2021 yang mencapai 32,80 persen. Artinya kondisi tersebut kemungkinan terjadi karena belum adanya intervensi kebijakan dan program yang memacu pengembangan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga.

Asdep Olahraga Masyarakat Suryati, menuturkan pentingnya SDI bagi Pembangunan olahraga di Indonesia,” SDI sangat bermanfaat sebagai landasan pengambilan kebijakan bagi Kementerian Pemuda dan Olahraga, termasuk Dinas Pemuda dan Olahraga di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun program dan kegiatan secara terukur, efisien, dan efektif. Dengan demikian, intervensi kebijakan dapat dilakukan dengan tepat dan terarah sehingga berdampak pada pembangunan nasional,” ujar Suryati yang ditemui pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Survei Pengukuran SDI Nasional Wilayah Kalimantan Tahun 2023 pada Rabu (23/8) di Hotel Ciputra, Jakarta

Kebijakan pembangunan olahraga nasional perlu disusun berdasarkan data dan bukti-bukti empirik hasil suatu kajian ilmiah. Harus mulai merubah berbagai kebijakan olahraga yang bias tujuan dan bertransformasi menuju kebijakan berbasis bukti.

Harus disadari bahwa SDI hanyalah potret hasil pembangunan olahraga. Maka, hal yang paling penting adalah langkah, rumusan kebijakan, program dan kegiatan tindak lanjut apa setelah kita mendapatkan gambaran pembangunan keolahragaan kita.

Penulis/Editor: Ahmad Subagia/Tutut Bina S

 

BAGIKAN :
PELAYANAN